Restu Janggal Dari Marsekal Bag4

Dari tiga perusahaan yang memproduksi radar dengan frekuensi S band, hanya Thales yang memiliki teknologi skykeeper. Dalam pertemuan itu, menurut peserta rapat yang juga petinggi perusahaan radar, spesifkasi dalam tender ini permintaan TNI Angkatan Udara sebagai pengguna. Jawaban ini yang juga disampaikan Warajiman dan Kotot untuk menanggapi protes perwakilan perusahaan yang menilai spesifkasi radar mengarah ke produk Thales.

Keduanya menyebutkan spesifkasi itu dianggap paling nyaman digunakan TNI Angkatan Udara. ”Kami di sini hanya memfasilitasi permintaan pengguna,” kata Warajiman seperti ditirukan peserta pertemuan yang lain. Kotot membenarkan ada protes dalam acara penjelasan tender radar itu menyangkut spesifkasi radar. Tapi dia membantah itu menyangkut spesifkasi radar yang mengarah ke Thales. ”Mereka kan pedagang, bisa begitu,” katanya. Thales merupakan rekanan penyedia radar TNI Angkatan Udara sejak 1959. Dari 20 unit radar jarak jauh yang dimiliki Indonesia, 13 adalah produk Thales. Delapan tipe Thomson dan lima Master T.

Produk terakhir yang dibeli adalah lima unit Master T pada 2006-2012. Adapun tujuh radar lain diproduksi perusahaan asal Inggris, Siemens Plessey. Produk Thales ini menggunakan spesifkasi frekuensi S band, yang terbilang lawas jika dibandingkan dengan X band. Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara Marsekal Pertama Wieko Syofyan mengakui instansinya menyampaikan usul spesifkasi kebutuhan radar ke Kementerian Pertahanan. Usul itu memang mengarah ke produk Thales. ”Itu yang dibutuhkan, cocok dengan medan kita, dan terbukti cukup baik,” katanya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *