Dari Buruh Sepatu Menjadi Pemilik Bimbel Matematika

Intan walau ada dalam lumpur, tetap saja intan. Mencoba menggambarkan perjalanan hidup Paulus Soekarno, pemilik Pythagoras, ibarat intan tadi. Datang ke Bogor, Jawa Barat, pada 1 Maret 2002 untuk mencari pekerjaan, akhirnya pria asal Wonogiri, Jawa Tengah ini terdampar menjadi tenaga kontrak di pabrik sepatu. Setelah beberapa kali masa kontrak, karena oderan sepatu lagi sepi, akhirnya pabrik sepatu itu terpaksa memberhentikannya.

Sumber : Jasa Seo Semarang

Lantas, selama beberapa bulan Paulus, luntang lantung, tak tentu arah. Sekadar menyambung hidup, ia beralih profesi menjadi tukang ojek. Untuk sementara waktu, ia pun menumpang hidup di rumah saudaranya. Pada masa menumpang tersebut, ia kerap membantu anak saudaranya mengerjakan PR matematika. Maklum, sedari dulu Paulus sangat menggemari pelajaran matematika. Ternyata, nilai anak saudaranya tersebut meningkat. Lantas, anak tetangga pun pada datang dan minta diajari. Dari kejadian ini, lantas memotivasi Paulus untuk melamar di salah satu tempat bimbingan belajar di kawasan Bogor. “Waktu itu saya diterima sebagai corrector,” katanya.

Paulus menambahkan, corrector adalah jabatan terendah. Namun seiring waktu, kariernya di tempat ini melejit. Posisi sebagai pengajar pun berhasil diraihnya. Tak hanya itu, disela-sela rutinitasnya mengajar, ia sempat melanjutkan sekolahnya di Universitas Pakuan, Bogor. “Saya waktu itu hanya tamatan SMA,” katanya. Selain mengajar di tempat kursus, di rumahnya, ia pun mengajar anak-anak setempat. Pertama hanya seorang. Lantas bertambah jadi 2, 3, 4 orang. Begitu seterusnya. Lama kelamaan, Paulus merasa bila ia membuka tempat kursus sendiri, tentu bakal lebih banyak para siswa yang bisa ia ajari matematika.

Sambil terus bekerja, ia lantas mengumpulkan dana untuk menyewa sebuah tempat. Akhirnya di 2007, ia berhasil mengonrak rumah yang disulap menjadi tempat kursus di perumahan Ciluar Asri, Bogor. Para siswa berasal dari anak-anak setempat dengan bayaran seiklasnya. Lantas di 2012, ia berhasil menyewa sebuah ruko di Taman Kenari, Bogor. Kini, rata-rata setiap bulan ada sekitar 30- 50 siswa didiknya. Buruk pabrik pun menjelma menjadi entrepreneur!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *